SELAMAT DATANG 1438 H

index ctqfwtcuiaehb2mSelamat datang 1438, selamat tinggal 1437. Waktu memang kerap terasa cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kita menyambut tahun 1437. Dan hari ini, satu tahun telah berlalu. Kita kembali menyambut kedatangan tahun yang baru. Ketika hari, bulan atau tahun yang baru datang, sesungguhnya jatah hidup di dunia ini berkurang. Maksudnya, ketika satu hari baru datang, jatah hidup kita satu hari berkurang. Oleh karenanya, kita harus mempersiapkan diri dengan matang, apa yang akan kita torehkan di tahun yang baru ini, agar tidak ada penyesalan kelak.

Untuk mempersiapkan diri menghadapi hidup di tahun 1438, alangkah baiknya kita renungkan ungkapan sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. berikut: “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin kembali esok”. Artinya, betapa pentingnya arti waktu bagi kita. Amat disayangkan ketika waktu yang kita lalui hari ini berlalu sia-sia begitu saja. Apalagi apabila hari ini kita lalui dengan berbuat maksiat. Na’udzubillah.

 

Merugilah kita apabila hari-hari dilalui tanpa menorehkan prestasi sedikitpun. Bila demikian, kita hanya bisa menyesal, tanpa bisa kembali memperbaikinya, karena waktu yang sudah berlalu tidak akan kembali lagi. Berbeda dengan rezeki yang hari ini tidak kita dapatkan. Bisa jadi, besok rezekinya jauh lebih banyak. Dengan ungkapan di atas, sayyidina Ali sedang memperingatkan kita, bahwa perhatian terhadap rezeki jauh lebih besar daripada perhatian kepada waktu. Sehingga kita kerap memikirkan cara mendapatkan rezeki, tetapi amat jarang kita memikirkan waktu, sehingga waktu berlalu begitu saja tanpa ada torehan amal di dalamnya. Sayyidina Ali mengingatkan, perhatian kita terhadap waktu haruslah lebih besar daripada terhadap rezeki, karena waktu tidak akan kembali lagi, sedangkan rezeki pasti akan bisa diraih kembali.

 

Waktu Dalam al-Quran

Perhatian al-Quran terhadap waktu sangat besar. Dalam banyak ayat, kata waktu dan siklusnya (seperti waktu fajar, subuh, siang, asar, malam, duha dll) kerap digunakan sebagai alat sumpah. Seperti dalam surat al-Lail, Allah bersumpah dengan waktu siang dan malam, “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang”. Atau dalam surat al-‘Ashr, “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian…”. Mengapa waktu dijadikan sumpah? Tentu saja, pasti ada sesuatu yang menonjol dari waktu sehingga dijadikan sumpah oleh Allah.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili menyatakan bahwa Allah bersumpah dengan waktu, karena waktu mencakup berbagai keajaiban. Di dalam waktu terdapat berbagai pelajaran, pergantian siang dan malam, gelap dan terang silih berganti, perubahan kejadian, kondisi dan kemaslahatan. Demikian penjelasannya. Lalu, apa makna waktu dalam pandangan al-Quran? Untuk mengetahuinya, kita bisa menelusuri ayat-ayat yang menggunakan kata waktu dan kata sinonimnya.

Ada empat kata semakna dengan waktu yang digunakan al-Quran. Pertama, ad-dahr. Kata ini digunakan untuk menunjukkan saat berkepanjangan yang dilalui  alam raya  dalam  kehidupan  dunia  ini, yaitu sejak diciptakan-Nya sampai punahnya alam sementara ini. Kata ad-dahr bisa ditemui dalam ayat: ”Bukankah telah pernah datang (terjadi) kepada manusia satu dahr (waktu) sedangkan ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (karena belum ada di alam ini?”) (QS Al-insan [76]: 1).

Kedua, ajal. Kata ini digunakan untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat. Seperti dalam ayat berikut:  ”Setiap umat mempunyai batas waktu berakhirnya usia” (QS Yunus [10]: 49). Ketiga, Waqt. Digunakan  dalam  arti  batas  akhir  kesempatan  atau peluang  untuk  menyelesaikan  suatu  peristiwa.  Karena  itu, sering  kali  Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa.

 

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban kepada orang-orang Mukmin yang tertentu waktu-waktunya (QS Al-Nisa’ [4]: 103).

Keempat, ‘Ashr,  kata  ini   biasa   diartikan   “waktu   menjelang terbenammya  matahari”,  tetapi  juga  dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi   bahwa  ‘ashr  merupakan  hal  yang  terpenting  dalam kehidupan manusia.  Kata  ‘ashr  sendiri  bermakna  “perasan”, seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan saja sepanjang masa.

 

Dari keempat kata di atas, dapat diambil kesan bahwa segala sesuatu pernah tiada dan keberadaannya terikat oleh waktu. Kemudian, segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, tidak ada yang abadi kecuali Allah SWT. Begitu pula usia manusia. Oleh karenanya, waktu harus diisi dengan kerja memeras keringat dan pikiran. Demikian makna waktu dalam al-Quran. Berbekal makna ini, tahun 1438 mestilah diisi dengan amal sholih. 1438 adalah lembaran baru yang menunggu ditulis dengan torehan prestasi dunia akhirat.

 

Mari kita perhatikan ungkapan berikut, ”Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru: ’putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat”.

Wallahu a’lam bish shawab. (oleh : Ust. Aprianto, S.Ag /bpud)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons