Kepedulian

KEPEDULIAN DALAM ISLAM

Oleh: KH. Tate Qomaruddin, Lc.

Dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw.
bersabda, “Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat
Islam, maka bukan golongan mereka.” (HR At-Tabrani)

Hadits ini banyak diriwayatkan oleh ahli hadits dengan lafadz dan
sanad yang berbeda. Dan dari semua sanad yang berbeda, para ulama
hadits mempermasalahkan keshahihannya. Tetapi para ulama sepakat
bahwa secara lafadz dan makna hadits ini adalah benar dan tidak
bertentangan dengan nilai Islam yang universal. Secara makna hadits
ini sesuai dengan nilai-nilai Islam yang terkait dengan ukhuwah
Islamiyah, baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits. Allah
swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara,
karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada
Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al-Hujuraat: 10)

Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam
kecintaan, kasih-sayang dan ikatan emosional ibarat satu tubuh. Jika
salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan seluruh anggota tidak
dapat istirahat dan sakit panas.” (Muttafaqun `alaihi)

Ukhuwah

Ihtimam atau kepedulian, perhatian dan keprihatian kepada nasib umat
Islam adalah kata kunci dari ukhuwah Islam. Kepedulian menunjukkan
kepekaan hati dan jiwa yang hidup sehingga ketika melihat saudaranya
menderita, terzhalimi dan sakit, maka ia akan merasakan apa yang
dialami saudaranya. Kemudian berupaya sekuat tenaga memberikan
bantuan yang bisa dilakukan.

Tiada ukhuwah tanpa kepedulian. Dan ukhuwah merupakan bukti dari
keimanan seseorang. “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya
bersaudara….” (Al-Hujuraat 10).

Husnuzhon

Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah husnudzon (berbaik
sangka) atau bersih hati (salamatul qalb) dan tidak melukai hati
saudaranya. Firman Allah Ta’ala, “….dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya
Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
(Al-Hasyr: 10)

Dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan An-Nasai,
Anas bin Malik r.a. berkata, ketika kami sedang bersama Rasulullah
saw., beliau bersabda, “Akan datang sekarang seorang dari penghuni
surga.” Maka muncullah seorang dari Anshar, janggutnya basah bekas
wudhu dan tangan kirinya membawa sandal. Keesokan harinya,
Rasulullah saw. berkata lagi, “Akan datang sekarang seorang dari
penghuni surga.” Maka datanglah lelaki itu dalam kondisi seperti
kemarin. Keesokan harinya, Rasulullah saw. berkata seperti kemarin.
Dan muncullah lelaki itu. Maka tatkala lelaki itu bangun, Abdullah
bin Amru bin Al-Ash berkata, “Saya berselisih dengan ayahku dan
berjanji tidak masuk kerumahnya tiga hari. Jika anda membolehkan
saya tinggal di rumahmu sampai janjiku selesai, maka aku akan
lakukan.” Maka lelaki itu berkata, “Boleh.”

Berkata Anas, “Abdullah tidur di rumahnya. Di malam pertama, tidak
melihatnya sholat malam, kecuali ketika dia akan tidur melakukan
dzikir dan takbir sampai bangun untuk shalat Shubuh. Saya tidak
mendengarnya berkata kecuali yang baik-baik. Ketika sudah lewat tiga
hari, saya hampir meremehkan amalnya dan berkata: “Wahai Abdullah,
sesungguhnya aku tidak berselisih dan bermusuhan dengan ayahku,
tetapi aku mendengar Rasulullah saw. berkata tentangmu tiga kali
dalam tiga majelis, bahwa akan datang kepada kalian seorang penghuni
surga. Maka muncullah Anda tiga kali. Saya ingin tinggal di rumah
Anda dan melihat amal Anda. Tetapi saya melihatnya biasa saja.
Ketika aku hendak pergi, dia memanggilnya dan berkata, “Apa yang aku
lakukan seperti yang Anda lihat, lebih dari itu, saya tidak pernah
dengki pada seorangpun dari umat Islam, tidak hasad atas kebaikan
yang Allah berikan kepada mereka.” Maka berkata Abdullah bin Amru
padanya, “Inilah yang telah mengantarkan Anda (pada derajat yang
tinggi, sehingga sudah mendapat jaminan masuk surga dari Rasululah
saw.), dan ini yang kami belum mampu.”

Mencintai untuk Saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya

Tingkatan ukhuwah pertengahan adalah merasakan apa yang dirasakan
saudaranya, mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana
mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Rasulullah saw.
Bersabda, “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga mencintai
untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR
Bukhari dan Muslim).

Itsaar

Tingkatan ukhuwah tertinggi adalah itsaar, atau mengutamakan
saudaranya atas diri sendiri dalam masalah keduniaan. “….mereka
(Anshar) `mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).
Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan
mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan….” (Al-Hasyr: 9)

Kaum Anshar adalah kelompok sahabat yang diabadikan Al-Qur’an karena
sifat itsaarnya yang sangat dominan. Mereka di antaranya Sa’ad bin
Raby, Abu Thalhah dan istrinya. Disebutkan ada orang Anshar yang
tulus mencintai, tanpa pamrih, dan mengutamakan kawan lebih dari
diri sendiri, meskipun mereka merasa lapar. Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah orang yang berbahagia
dan beruntung. Dalam hadits riwayat muslim dari Abu Hurairah,
sepasang suami istri yang memenuhi perintah Rasulullah untuk memberi
makan musafir yang kelaparan itu adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim
(Rumaisha binti Milhan). Mereka sendiri malam itu segera menidurkan
anak-anak mereka yang lapar dan berpura-pura makan agar tamu mereka
makan dengan tenang. Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka
itu adalah satu porsi terakhir yang mereka miliki hari itu.

Munthalaq Dakwah

Kepedulian juga merupakan titik tolak dan langkah awal dari dakwah.
Seorang yang tidak peduli dan prihatin dengan kondisi umatnya tidak
akan mungkin bergerak dan melangkah melakukan dakwah. Oleh karena
itu ketika Abbas As-Sisi sedang berjalan dengan gurunya Imam Syahid
Hasan Al-Banna, Abbas As-Sisi mendengar informasi bahwa Bosnia jatuh
ke tangan orang kafir. Ia berkata, “Saya prihatin dan sedih akan
nasib umat Islam di Bosnia.” Maka dengan spontan Imam Syahid Hasan
Al-Banna mengatakan:” Anda telah mulai wahai Abbas”.

Sebelumnya pemimpin para nabi dan pemimpin seluruh umat manusia,
Rasulullah Muhammad saw., ketika pertama mendapat risalah dakwah,
beliau mengatakan, “Habis sudah waktu untuk tidur, wahai Khadijah.”
Habis sudah waktu untuk bermain-main dan senda gurau. Habis sudah
waktu untuk bersenang-senang di tengah umat Islam yang sedang
ditindas dan dibantai, di tengah umat Islam yang terbelakang,
miskin, dan bodoh, di tengah umat Islam yang lalai dan larut dengan
kemaksiatan. Habis sudah waktu untuk istirahat, rekreasi, dan
tertawa-tawa di tengah umat Islam Palestina yang disembelih dan
ditumpas habis oleh Zionis Yahudi. Habis sudah waktu untuk santai di
tengah umat Islam Irak yang sedang dijajah dan diadu domba oleh
Amerika Serikat dan sekutunya. Demikianlah sikap yang mesti dimiliki
oleh para pemimpin umat.

Dan ciri khas pemimpin sangat terkait dengan kepedulian terhadap
umatnya. Kepedulian para pemimpin Islam terrefleksikan pada
keinginan yang kuat untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan,
bukan hanya di dunia, tetapi di dunia dan akhirat. Ketika rakyatnya
menderita, miskin, tertindas, maka sikap seorang pemimpin adalah
bagaimana bisa menyelamatkan rakyat dan bangsanya, bukan mencari
kesempatan di atas kesempitan. Dan contoh kepedulian telah
dipraktikan oleh Rasulullah saw. dengan sempurna. Rasulullah saw.
adalah manusia yang paling peduli, perhatian dan paling banyak
berkorban untuk umatnya, sebagaimana disebutkan dalam surat At-
Taubah ayat 128.

Rahmat

Ihtimam, ukhuwah, dan dakwah merupakan refleksi dari rahmat yang
terpancar kepada umatnya. Dan Rasulullah saw. bukan hanya bersikap
rahmat bagi umat Islam, umat manusia, bahkan rahmat bagi semesta
alam. Betapa besarnya rasa kasih sayang Rasulullah saw. kepada
manusia sehingga beliau menginginkan bahwa semuanya beriman kepada
Allah dan beriman kepada ajaran Islam. Dengan demikian mereka akan
terbebas dari penderitaan yang maha berat, yaitu bebas dari api
neraka. Inilah risalah beliau yaitu mengajak manusia agar mereka
memperoleh hidayah Islam.

Rasulullah saw. rela mengorbankan segala kesenangan dunia demi untuk
menyelamatkan umat manusia. Jika malam hari, beliau sangat khusyuk
dan lama bermunjat kepada Allah swt. agar manusia terbebas dari pola
hidup jahiliyah yang akan mengantarkan mereka kepada neraka. Dan
jika siang hari Rasulullah saw. terus-menerus berdakwah dan berjihad
untuk menyebarkan Islam kepada seluruh manusia. Dan seluruh
aktivitas yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah ibadah, dakwah,
dan kepedulian terhadap umatnya.

Kepedulian dan khidmah (pelayanan) adalah ciri khas pemimpin sejati
dalam Islam. Sedangkan dalam manajemen modern, pelayanan atau
service sangat diutamakan dan menempati posisi yang sangat penting.
Maka bertemulah dua nilai yang saling mengokohkan, nilai Islam dan
nilai-nilai universalitas modern. Dalam Islam ada kaidah yang
bersumber dari salah satu riwayat hadits, berbunyi, “Pemimpin suatu
kaum adalah pelayan mereka.” (HR Ibnu Majah)

Hadits ini menurut para ulama sanadnya lemah, tetapi karena
riwayatnya banyak sehingga saling menguatkan dan dapat sampai ke
derajat hasan lighairihi (baik). Tetapi, sekali lagi bahwa makna
hadits ini benar dan Rasulullah saw. sendiri adalah contoh dalam
pelayanan dan kepedulian terhadap umatnya. Dan hadits ini sangat
tepat dengan manajemen kepemimpinan modern.

Kepedulian tampaknya mudah diucapkan, tetapi hakikatnya susah
direalisasikan. Ini karena manusia pada umumnya sangat mencintai
dirinya sendiri dan sangat mementingkan diri sendiri, apalagi jika
terkait dengan harta dan segala macam kesenangan dunia. Kepedulian
hanya dapat direalisasikan jika seseorang memiliki kedalaman iman
kepada Allah swt. dan hari akhir, seseorang yang sangat mengharapkan
ridha Allah swt. dan kehidupan hari akhirat. Sehingga mereka akan
banyak memberi, berkorban, dan peduli terhadap yang lain. Begitulah
yang terjadi pada diri Rasulullah saw., para sahabat, dan generasi
salafus shalih.

Dan ciri khas dari kedalaman iman akan tercermin dari kekhusukan
dalam beribadah kepada Allah swt. dan akhlak yang terpuji terhadap
sesama manusia. (Al-Fath: 29)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

(QS. Al-Qalam: 4)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Show Buttons
Hide Buttons